MELESTARIKAN BUDAYA PERTANIAN DALAM MENDUKUNG PARIWISATA BUDAYA
Abstrak
Pesatnya pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di Bali mendorong terjadinya peningkatan kebutuhan lahan untuk kegiatan non-pertanian dan persaingan pemanfaatan air yang semakin kompleks. Di Bali, kondisi ini dapat menjadi tantangan dan ancaman terhadap keberlanjutan subak-subak dengan budaya pertaniannya. Padahal, subak-subak memiliki multi-fungsi bagi masyarakat dan lingkungan. Beberapa fungsi subak adalah: (i) fungsi produksi pertanian; (ii) fungsi hidrologis; (iii) fungsi sosial dan budaya; (iv) fungsi ekonomis; (v) fungsi lingkungan; (vi) fungsi wisata. Fungsi subak ini merupakan penunjang pembangunan pariwisata budaya di Bali. Pelestarian subak dan fungsinya dapat dilakukan melalui beberapa upaya sebagai beriku: (i) menerapkan peraturan pemerintah tentang lahan pengan berkelanjutan; (ii) meningkatkan kapasitas petani dalam berproduksi; (iii) memfasilitasi kegiatan kemitraan bisnis subak; (iv) membangun agrowisata, wisata agro atau ekowisata yang berbasis subak; (v) asuransi pertanian; dan (vi) penetapan pajak yang memihak petani.
Referensi
Arroyo, G., C., C. Barbieri, and R.S. Rozier, 2013: Defining agritourism: a comparative study of stakeholders’ perceptions in Missouri and N. Caro-lina. In: Tourism Management, Elsevier Ltd, Volume 37, pp. 39-47.
Gabriel E. and C. Tettey. 2014. Agrotourism development in Ghana: A study of its prospects and challenges at Adjeikrom Cocoa Tour Facility. Bulletin of Geography. Socio–economic Series No. 25: 81–99.
Malkanthi, S.H.P., and J. K. Routry. 2011. Potential for Agritourism Development: Evidence from Sri Lanka, The Journal of Agricultural Sciences, Vol. 6, No.1: 45-58.
Nuntsu, N., D. Tassiopoulos, and N. Haydam. 2004. The bed and breakfast market of Buffalo City, South Africa: Present status, constraints and success factors. Tourism Management, Vol.25, No.4:515-522.
Roth, D. and Sedana, G. 2015. Reframing Tri Hita Karana: From ‘Balinese Culture’ to Politics. The Asia Pacific Journal of Anthropology, 16(2): 157 - 175
Sedana, G., B.M. Arjana, dan I N. Sudiarta. 2018. Potensi Subak dalam Pengembangan Ekowisata: Kasus Subak Sembung di Kelurahan Peguyangan, Kecamatan Denpasar Utara, Kota Denpasar. Dwijendagro, Vol.8, No. 1: 113-122.
Sedana, G. and I N.D. Astawa. 2016. Panca Datu Partnership in Support of Inclusive Business for Coffee Development:The Case of Ngada District, Province of Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Asian Journal of Agriculture and Development, Vol. 13, No.2: 75-98.
_______________________. 2017. Revitalization of Farmers Organization Functions toward Agribusiness for its Sustainability: Ideas for Traditional Irrigation Organization in Bali Province, Indonesia. International Journal of Development and Research. Vol.7, Issue 11: 17020-17024.
_______________________. 2018. Institutional Adjustment of Subak (Traditional Irrigation System) Orienting Business: Case of Cooperative of Subak Guama, Bali Province, Indonesia.
Sedana, G. I G.A.A.Ambarawati, and W. Windia. Strengthening 2014. Social Capital for Agricultural Development: Lessons from Guama, Bali, Indonesia. Asian Journal of Agriculture and Development. Vol.11 No.2:39-50.
Windia, W., Sumiyati, and G. Sedana. 2015. Aspek Ritual pada Sistem Irigasi Subak sebagai Warisan Budaya Dunia. Jurnal Kajian Bali, Vol.5, No.: 23-38.
“Ritual Aspect in the Subak System as the World Cultural Heritage.
Windia, W., G. Sedana, T. de Vet, J.S. Lansing. 2017. The Local Wisdom of Balinese Subaks, in the Indigenous Knowledge: Enhancing its Contribution to Natural Resources Management, edited by Paul Sillitoe. Boston, USA: CAB International.