AKULTURASI ARSITEKTUR PURA (HINDU) DAN LANGGAR (ISLAM) DI DESA BUNUTIN KABUPATEN BANGLI
Abstrak
Di Indonesia mengakui adanya enam agama yakni Islam, Hindu, Kristen Protestan, Katolik, Buddha, dan Kong Hu Cuserta memiliki bentuk tempat ibadah yang berbeda beda. Terkait hal tersebut,di sebuah daerah di Pulau Bali terdapat tempat ibadah umat Hindu dengan terdapatnya dua jenis bangunan suci yaitu bangunan umat Hindu dan umatMuslim dalam satu wilayah Pura, nama Pura terserbut adalah Pura Dalam Jawa atau sering disebut Pura Langgar, yang letaknya di Desa Bunutin, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli. Pura Dalem Jawa ini sama seperti Pura pada umumnya yang memiliki tiga mandala. Yang membuat Pura ini beda adalah terdapatnya satu Langgar yang berpadu dengan ukiran-ukiran Bali.Terkait dengan hal tersebut sangatlah menarik Pura ini untuk di pahami sejarah maupun kenuikan kearsitketurannya.
Adapun Rumusan Masalah yang diangkat yakni :Apa pengaruh terhadap adanya langgar di dalam Pura Dalem Jawa? Dan .Mengapa letak bangunan Langgar berada di utama mandala?.Batasan Masalahnya dari identifikasi masalah tersebut, penulis hanya akan membahas akulturasi arsitektur Langgar(Islam) dan Pura (Hindu) di Desa Bunutin, kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli.
Pada umumnya struktur atau denah pura di Bali dibagi atas tiga bagian, yaitu: jabapura atau jaba pisan (halaman luar), jaba tengah (halaman tengah) dan jeroan (halaman dalam). Sebuah pura di kelilingi dengan tembok (bahasa Bali = penyengker ) sebagai batas pekarangan yang disakralkan.LanggarMerupakan bangunan untuk ibadah sholat kaum muslimin. Dengan ukuran cukup besar. Walaupun bisa menampung cukup orang untuk melaksanakan sholat jamaah, bangunan ini tidak bisa dipakai guna kegiatan sholat jamaah karena tidak memenuhi untuk pelaksanaan sholat Jumat.
Adanya Langgar di Pura Dalem Jawa berawal ketika Ida Dewa Mas Blambangan jatuh sakit dan syarat untuk beliau sehat dan biasa mempunyai keturunan lagi yakni membuat langgar tersebut, syarat tersebut atas kehendak Tuhan Allah. Pola akulturasi arsitektur yang terlihat Pura Dalem Jawa terlihat Pada bagian Jaba Pura atau luar Pura atau bagian Barat Pura terdapat lima buah keran air, bagi umat Hindu keran ini digunakan untuk mencuci bahan-bahan upacara, sedangkan umat Muslim menggunakannya sebagai tempat wudhu atau membersihkan diri sebelum beribadah.Pada area Jeroan terdapat tiga buah bangunan, antara lain Bangunan Langgar/ Gedong Suci, Bale Pawedan, Bale Panegtegan atau Lumbung. Pada area jeroan yang biasa di gunakan untuk bersembahyang umat Hindu, juga di gunakan sembahyang untuk umat Muslim, tetapi untuk peribadahan kedua agama ini tidak pernah berbarengan. Untuk kedua umat tidak di perbolehkan memasuki bangunan Langgar/gedong suci tersebut, hanya orang suci atau pemangkuPura dan penglingsir Puri Bunutin saja yang bole masuk, itupun jika ada upacara.
Dapat di simpulkan:Pura Dalem Jawa/ Pura Langgar merupakan peninggalan tempat ibadah umat Hindu yang memiliki leluhur dari Pulau Jawa, yaitu dari daerah Blambangan, Keberadaan Langgar di Pura Dalem Jawa tepatnya di utama mandala tersebut berfungsi sebagai tempat penyimpanan Pretime atau Arca-arca yang tempat tersebut disebut Gedong. Pengaruh dari adanya kata Langgar membuat umat Muslim banyak berdatangan untuk beribadah. Dari hal ini percampuran kebudayaan terjadi di Pura Dalem Jawa dan Akulturasi Arsitektur yang terjadi di Pura Dalem tersebut yakni, ruang yang sama (Natah) digunakan dua umat yang berbeda untuk beribadah.
Referensi
Wawancara Kelian Semeton Puri Bunutin, I Dewa Gede Oka Murjaya